Kepadatan arus lalu lintas yang terjadi selama ini tidak mutlak menjadi biang keladi dari kemacetan. Sebab, dalam berlalu lintas banyak hal yang bisa menghambat laju kendaraan bermotor, salah satunya dari pengemudi. Kemacetan lalu lintas bagi masyarakat perkotaan sudah merupakan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Tingginya volume kendaraan bermotor di setiap ruas jalan utama yang sebelumnya hanya terjadi pada jam-jam sibuk, sekarang ini sudah tidak lagi mengenal waktu.
Kondisi lalu lintas di kota-kota besar seperti itu tiada lain disebabkan karena semakin tidak seimbangnya pertambahan kendaraan bermotor dan pembangunan jaringan jalan. Dari ketidak seimbangan tersebut, ruang gerak kendaraan bermotor dipastikan menyempit sehingga lajunya sering menemui hambatan. Karena itu, kemacetan lalu lintas menjadi risiko yang selalu akan mengancam setiap pengemudi. Terlebih lagi ketika kendaraan bermotor akan memasuki persimpangan sebagai pusat terjadinya “Konflik” lalu lintas. Parahnya kemacetan lalu lintas antara lalin disebabkan rendahnya disiplin pengemudi. Misalnya didalam kota yang arus lalu lintasnya searah, sering terlihat kendaraan bermotor berhenti dibelokan dan kaki persimpangan. Sementara untukk di jalur dua arah pengemudi mengabaikan keberadaan marka jalan.
Akibat pelanggaran terhadap marka jalan, laju kendaraan di lokasi-lokasi tersebut tersendat. Ruas jalan yang seharusnya terbagi dua untukk dua arah, dalam penggunaannya di dominasi oleh kendaraan bermotor dari satu arah, sehingga memperparah kemacetan lalu lintas. Pemandangan ini sering kali terlihat pada ruas jalan yang seharusnya hanya untuk dua lajur pada saat volume kendaraan meningkat berubah menjadi empat lajur. Sebaliknya, ruas jalan untuk kendaraan bermotor dari arah berlawanan menjadi lebih kecil. Dari keadaan tersebut, itu sudah jelas menunjukkan tingkat dari disiplin pengemudi kendaraan bermotor dalam berlalu lintas. Sebab, perilaku pengemudi dalam menempatkan kendaraan secara seenaknya membuktikan peraturan lalu lintas berupa marka jalan dianggap angin lalu.
Padahal, keberadaan marka jalan bagi pengemudi kendaraan bermotor memegang peranan penting. Apalagi di belokan, marka bisa dijadikan sebagai pedoman oleh pengemudi agar penempatan kendaraan bermotornya dalam keadaan tetap aman. Karena itu, dalam berlalu linta pengemudi kendaraan bermotor harus benar-benar memperhatikan dan mengikuti petunjuk dari marka jalan. pengemudi yang mengabaikan marka jalan tidak hanya memperparah terjadinya kemacetan, tetapi juga memperbesar risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Jaga Jarak Aman
Saat berkendaraan bermotor di keramaian jalan, walaupun kita berusaha untuk tidak melakukan kesalahan tetap ada saja kemungkinan terjadi insiden orang lain yang masih mungkin melakukan kesalahan yang membahayakan kita. Perlindungan terbaik yang bisa kita dapat terhadap kemungkinan tersebut adalah ruang kkosong. Jarak ruang kosongn disekitar motor akan :
Memberikan waktu reaksi
Memberikan ruang untuk bermanuver
Ukuran motor yang kecil sebenarnya memberikan keuntungan apabila kita mengetahuinya dan menggunakannya sesuai dan kondisi motor, setiap jalur jalan bisa dianggap terdiri dari 3 sub jalur kiri, tengah dan kanan. Prinsip utama untuk memilih sub jalur mana yang digunakan adalah bahwa sub jalur yang kita pilih harusnya :
Meningkatkan kemampuan kita untuk melihat dan terlihat
Menjauhi blind spot kendaraan lain
Menghindari hazzard
Mengkomunikasikan keinginan kita ke pengguna jalan lain
Menghindari wind blast dari kendaraan lain
Memberikan ruang untuk menghindar saat keadaan darurat
Dari 3 sub jalur tersebut, tidak bisa disebut bahwa salah satu jalur adalah yang terbaik setiap sub jalur bisa adalah posisi terbaik, tidak ada sub jalur yang diharamkan, termasuk sub jalur tengah. Pilihlah sub jalur yang memberikan ruanbg kosong paling maksimal dan memudahkan kita untuk terlihat oleh pengguna jalan lain ubahlah posisi sub jalur sesuai situasi dan kondisi.
Saat mengikuti kendaraan lain jangan pernah mengikuti kendaraan lain terlalu dekat. Faktor ini termasuk yang sering menyebabkan kecelakaan motor, seperti kendaraan apapun, motor memerlukan jarak untuk bisa berhenti untuk kendaraan normal, biasakan untuk menjaga jarak minimum 2 detik dibelakang kendaraan lain. Untuk mengecek jarak 2 detik tersebut kita bisa melakukannya sbb :
Pilihlah 1 titik referensi di depan kita, bisa jadi marka jalan atau benda di pinggir jalan seperti tiang lampu jalan
Saat bemper kendaraan di depan kita melewati titik referensi, cobalah mulaai berhitung dalam hati “Seratus satu-seratus dua”
Jika kita mencapai titik referensi itu sebelum hitungan selesai, maka kita berada terlalu dekat dengan kendaraan di depan kita.
Jarak 2 detik tersebut memberikan ruang yang cukup minimum untuk berhenti atau menghindar jika kendaraan didepan kita tiba-tiba berhenti, jarak tersebut juga memungkinkan kita untuk melihat llubang hazzard apapun di jalan yang muncul setelah kendaraan di depan kita lewat.
Saat keadaan tidak normal, yang membuat jarak pengereman membesar, tentui saja diperlukan ruang kosong yang lebih besar pula misalnya saat hujan. Menjaga jarak ini juga perlu saat berhenti, misalnya di lampu lalu lintas yang menyala merah. Hal ini diperlukan untuk memudahkan kita cepat menghindar bila kendaraan dari belakang kita tidak dapat mengerem dan bila kendaraan di depan kita tiba-tiba mundur. bila mengikuti mobil dari belakang berkendaralah diposisi dimana si pengemudi mobil dapat melihat kita dari spionnya, berkendara di sub jalur tengah memberikan kemungkinan terbesar untuk bisa terlihat karena kita akan terlihat di spion dalam dengan jelas.
Berkendara di sisi jauh juga memungkinkan si pengemudi dapat melihat kita melalui spion kiri dan kanan. Tapi ingat, bahwa banyak pengemudi tidak melihat ke spion kiri dan kanan sebanyak melihat spion dalam. Saat di ikuti kendaraan lain mempercepat laju motor saat ada orang mengikuti kita dari dekat biasanya berakhir lebih buruk, biasanya orang tersebut akan terus mengikuti kita dari kecepatan yang lebih tinggi itu cara terbaik untuk mengatasi situasi ini adalah membiarkan orang tersebut maju ke depan kita, saat ada orang yang mengikuti kita terlallu dekat pindahlah jalur dan biarkan mereka melalu kita. Jangan lupa, komunikasikan keinginan kita untuk pindah dengan menggunakan lampu sein jika pindah jalur tidak bisa di lakukan karena situasi tertentu. Cobalah untuk menurunkan kecepatan, melambatkan kendaraan dan memberikan ruang di depan kita akan menyemangati mereka untuk melewati kita.
Saat melewati dan dilewati jarak pandang adalah kata kuncinya, pastikan pengguna jalan melihat kita dan pastikan kita melihat semua potensi hazzard yang ada.
© Melewati
Saat ingin melewati, berkendaralah di sub jalur kanan pada jarak yang aman dari kendaraan di depan. Ini juga memastikan jarak pandang untuk melihat situasi di depan, perhatikan kendaraan daria arah berlawanan, hidupkan sein kanan untukk mengkomunikasikan keinginan kita mendahului dan gunakan spion untuk melihat kondisi lalu lintas di belakang kita.
Saat keadaan aman, pindahlah ke jalur kanan
Percepat kendaraan sehingga bisa melewati blind spot secepat mungkin
Hidupkan sein kiri, cek lewat spion dan bila perllu palingkan kepala sebelum pindah ke jalur awal
© Dilewati
Saat dilewati oleh kendaraan lain dari belakang atau dari arah yang berlawanan sebaliknya tetaplah di sub jalur tengah, jalur ini akan memberikan ruang besar bila terjadi hal-hal yang membahayakan. Perhatikan dan siapkan diri untuk potensi bahaya berikut :
Tertabrak oleh kendaran lain
Terytabrak spion
Terganggu oleh lemparan benda-benda dari jendela
Ganguan wind blast terutama oleh kendaraan yang relatif besar.
Jangan pernah berpindah jalur menjauhi kendaraan yang melewati kita karena mengundang pengemudi kendaraan tersebut untuk menutup jalur terlalu dini.
Perlindungan terbaik yang bisa kita dapat terhadap kemungkinan tersebut adalah ruang kosong. Jarak ruang kosong disekitar motor akan :
Memberikan waktu reaksi
Memberikan ruang untuk bermanuver
Setuju banget dengan keterangan diatas, apalagi kalau kondisi hujan plus jalan licin/tergenang air, Jarak aman mutlak diperlukan.
Sekedar sharing, tadi malam (Hujan dan banyak genangan air) ane terhindar dari kecelakaan berkat jaga jarak dengan motor persis di depan ane. Motor di depan ane, mungkin karena ada genangan air dan melakukan pengereman mendadak, langsung terjungkal dan motor melintang di tengah jalan.
Jarak ane waktu itu sekitar 7-10 m dengan kecepatan -/+ 50an, dan masih sempat mengerem kombinasi tangan dan kaki, walaupun tetap saja roda belakang “nesot” alhamdulillah motor ane bisa berhenti persis di depan tuh motor yang melintang, tapi dari sebelah kanan rupanya ada bebek yang tidak sempat ngerem, dan akhirnya tuh motor dihantam, untung orangnya ga’ kelindes. So…. Jaga jarak dan mengurangi kecepatan emang mutlak apalagi saat hujan.
Berada di belakang truk trailer pengangkut motor tiba-tiba muncul kardus besar yang terbang dari atas truk yang melaju cepat, asli kagret tiba-tiba muncul kertas kardus besar terbang ke arah motor, alhamdulillah sempat menghindar dan itu bisa cepat dilakukan karena ada jarak aman dan pemilihan posisi yang tidak tepat dibelakang truk, apa jadinya kalau kardus itu menghantam si bongsor dengan kecepatan motor waktu itu sekitar 60 kmpj bisa jadi konsekuensi nya cukup parah.
Selain jaga jarak, jaga konsentrasi selama berkendara.
Persis kemaren sore, Jarak sangat penting!!!
Rombongan TriC & HTML touring menuju Purwokerto (PTB), di saat kita melewati trek pegunungan yang terjal, para peserta mayoritas hanya jaga jarak selisih satu motor. Kaibatnya, ada saat menemui tanjakan yang paling terjal (sekitar 40 derajat), ada 1 motor yang nggak kuat nanjak, bebrapa peserta belakangnya pun ikut kelimpungan menghindar dan terus berusaha naik. Karena jalan relatif esmpit (selebar mobil) usaha menghindar dengan terus menggegas motor pun ada yang sia-sia, ada yang malah belok sampai terperosot ke rumput di pinggir jalan dan hampir masuk jurang dan ada yang malah mengerem mati sampai bannya mengunci, eh tanpa disangka ketika ban terkunci, malah grip ban hilang! seliplah motor tersebut. Setelah coba bertahan, akhirnya jatuh juga di tanjakan terjal tersebut. (beruntung motor tidak terus turun sampai bawah jurang) bayangkan, setelah motor susah didirikan, sesudah diberdirikan motor susah dihidupkan karena harus masuk gigi 1 (apabila di lepas, motor bisa mundur ke jurang) karena rem kurang kuat, setelah ditahan beberapa orang, motor di coba di netralkan dan distarter, tetapi tidak mau hidup karena karbu banjir, walhasil kita berusaha dan berhasil juga hidup tuh mesin.
Yah, hanya karena kurang jaga jarak, yang tadinya bisa cepat, harus menunggu lama karena ada masalah dan harus bertaruh nyawa (baik orang dan motornya) di pegunungan.
Saya pernah baca salah satu bab mengenai safety riding, “Jarak aman dengan kendaraan yang ada di depan kita pada waktu kecepatan tinggi adalah 2 detik” (CMIIW) asumsinya adalah apabila kendaraan didepan berhenti mendadak, kita punya jarak/waktu aman agar gak sampai nyeruduk, cuman untuk prakteknya agak susah juga yah ngkur jarak 2 detik umpamanya saat motor pada kecepatan kita 100km/j.
Ada yang tau gak bro kalau di konversi ke meter kira-kira berapa meter jarak 2 detik pada kecepata 100km/j.
Tadi iseng nyoba ngitung kalau salah dikoreksi yah :
Dengan kecepatan 100 km/jam jarak aman 2 detik adalah :
1 Jam=60 menit=3600 detik
100/3600=0,27km=27 m.
dengan kecepatan 100km/j jarak yang ditempuh dalam 1 detik adalah 27 m, jadi jarak 2 detik dengan kec 100 km/j adalah 27x2=54 meter.
Jauh juga yah, apabila kita jalan 100 km/j maka kita harus ambil jarak aman dengan kendaraan kita sejaub 54 meter.
bro, naim postingan mengenai jarak amannya saya pindah ke tread ini dari pada oot di thread jargon safety riding ya.
Jarak aman berkendara :
Kecepatan 40kpj = Jarak 20 m
Kecepatan 60kpj = Jarak 30 m
Kecepatan 80kpj = Jarak 45 m
Kecepatan 100kpj = Jarak 60 m.
Makin tinggi handicap (halangan) hujan, jalan licin dan lain-lain menyebabkan bertambahnya jarak pengereman maka otomatis jarak aman menjadi bertambah.
Mooh, oot nek yak, kemaren yang pulang bareng ama lo dari palbut anak tric bukan. kata lo stikernya timbul, kalau bener sekedar catatan di tric masalah safety triding sangat ketat, perlengkapan motor dan tata cara berkendara ketat banget dan diwajibkan untuk mengikutinya. Jadi, muksin doktrin “Safety” sudah jadi soul di tric, makanya member tric jadi baik-baik di jalan berombongan ataupun perorangan, kecuali gw.
Bro setelah ane baca, postingan bro raim kok rasa-rasanya tidak melenceng dari topic ya, (topicnya kan jaga jarak aman). postingannya itu tadinya jadi oot di thread jargon safety riding makanya saya merge ke thread ini, tread dengan topic jaga jarak aman ya tentu aja, kalau disini, jadinya gak 00t. That’s the idea bro, nah kan sekarang jadi oot di sini.
Rupanya kalau masalah ketelitian membeca postingan, ane kalah jauh ama bro muhardi, sori oot lagi, ane rupanya udik ya, btw, emang bro muhardi kerjanya apa she? tiap hari kan membaca postingan ama milis tuh, emang gak dimarahin bos? jangan-jangan ente yang jadi bos.
Waktu touring ke Semarang kecepatan rata-rata 80-100 km/jam, jarak antar teman-teman paling jauh paling satu motor kurang lebih 2 m, jadi kalau pake perhitungan jarak aman sebenarnya sama sekali tidak aman ya bro, tapi yang paling penting mah berdoa’a dulu sebelum pergi untuk keselamatan di perjalanan.
Iya bro, untuk kecepatan seperti itu sepertinya 2 meter terlalu dekat kalau terjadi apa-apa di salah satu motor bisa jadi tabrakan beruntun kadang, memang kalau lagi group riding suka kelupaan soal begini lupa bahwa gak selalu dapet smooth ride.
Solusinya? walaupun dalam formasi satu line, selalulah berformasi staggered sehingga punya ruang lebih banyak untuk pengereman dan untuk menghindar bila terjadi apa-apa.
Harus ada perbedaan tergantung factor kondisi jalan, CMIIW ada beberapa pertanyaan dari rekan yang lain, Kalau macet bagaimana? dan kalau jalan lurus dan lancar bagaimana?
Kalau macet : Yach harus bisa menjaga jarak dengan pengendara lain dan jangan di paksakan harus dekat dengan rombongan karena akan berakibat terganggungna dan hilangnya konsentrasi pengendara lain, bila ketinggalan pasti ditungguin.
Kalau lancar : Posisi zigzag dengan jarak +/- 2 meter (motor).
Artikelnya bagus dan memberii pengetahuan yang tentang jarak aman yang selama ini sering kita abaikan. Tapi setelah gw pikir-pikir, buat gw pribadi kayanya agak sulit juga untuk menerapkan jarak aman ini ya, sulit dalam konteks kadang menyebalkan.
Sekedar sharing, gw tipikal rider yang style-nya berubah-ubah tergantung mood sama kondisi motor, kalau mood lagi enak dan motor lagi oke, jadi deh ridingnya rada-rada agresif, tapi tetep safe kok (menurut ukuran gw loh, subyektif) Nah kalau mood lagi jelek, capek dan mototr lagi pas kurang oke, stylenya jadi defensif.
Berdasarkan pengalaman kalai jadi defensif rider, seringkali malah jadi sering mengundang bahaya dibanding jadi agresif rider. Pasalnya ukuran jarak orang jakarta dalam berkendara memang sudah salah kaprah kali ya, apabalagi motor kalau ga’ nempel kayanya gimana gitu, wAlhasil beberapa kali gw lagi jalan pelan-pelan dengan amannya menjaga jarak, nyaris jadi korban serempetan pengendara lain yang berebut space kosong di depan gw, walhasil jarak aman gw terus menjauh, karena spacenya diambil orang. Hal ini sering kali menyebalkan, belum lagi kadang gw jadi terpaksa ngerem mendadak karena ulah pengendara lain yang mengambil space kosong di depan gw, benar-benar menyebalkan.
FYI, jika ingin speed touring sebaiknya kelompok diperkecil, jangan lebih adri sepuluh motor, jarak antar motor direnggangkan, semakin renggang semakin baik. Peserta sebaiknya cari jalan sendiri-sendiri, jangan ikut ritme rombongan. Hal ini untuk mengantisipasi jika peserta di depan melakukan pengereman mendadak atau manuver yang tidak terduga. Kecuali anggota team memiliki skill, style, stamina, pengalaman serta pemahaman karakter yang sama sih ga’ masalah lari 100-120 kpj jarak cuman 2 meter, kaya motor GP spedd 340 kpj beda jarak cuman 5 cm.
Itu karena mereka berjalan dikecepatan yang relatif sama. Karena perlambatan mereka relatif sama, mungkin yang dihitung Cuma reaction time saja. saya pernah baca artikel tentang rection time berkisar 370ms-410ms untuk rider muda, dan 480ms-505ms untuk rider yang lebih senior. Asalnya disini digabung dengan rection time rata-rata 0.5ms maka saya dapat tabel di attachment. Tetapi perlu diingat, itu adalah jarak terhadap benda diam. Bila amembuntuti mobil/motor, tentu pasti dikurangi perlambatan dia juga. Tntu harus lebih berhati-hati bila membuntuti kendaraan dengan angka perlambatan yang lebih supperior, seperti mobil. Taman kota sebagai indikator kualitas administrasi kota Bandung. Kompas-Taman memiliki peran penting dalam sebuah kota karen ataman kota tidak hanya memberikan kesegaran, tetapi menjadi indikator baik atau tidaknya administrasi sebuah kota.
“Ada jargon, kalau datang ke suatu kota, lihatlah jalan dan taman-tamannya. Kalau taman dan jalannya rapi, maka kotanya baik. Jalan dan taman menjadi indikator baik atau tidaknya administrasi kota,”Kata Haryo Winarso, peniti senior di laboratorium desain perkotaan, Departemen Planologi, ITB. Taman juga bisa membangun citra kota, Haryo mencontohkan, para pengembang perumahan akan membangun jalan dan taman terlebih dahulu untuk membangun citra perumahannya sehingga harga tanah dan rumahnya yang dijual bisa tinggi.
Karena ingin membangun citra kota yang baik juga, saat Konferensi Asia Afrika(KAA) berlangsung, kota Bandung membangun jalan dan taman dilengkapi lampu jalan dan lainnya. “Yang menjadi persoalan berapa lama keindahan itu bisa bertahan.” kata Haryo. Untuk memperindah kota, sah saja digunakan taman tempelan seperti yang terjadi di Gedung Merdeka saat napak tilas KAA.
“Persoalannya, kalau orang tahu itu tempelan, citranya menjadi kurang baik. Itu hanya manipulasi,”kata Haryo. Tapi harus diakui, dengan adanya KAA, fasilitas kota menjadi lebih baik karena ada marka jalan, lampu taman, dan lainnya.
“Sebaiknya momen KAA dijadikan pendorong untuk membuat kota menjadi lebih baik, kalau sebulan kemudian rusak, citra pemerintah kota dan daerahnya menjadi jelek dan tidak dapat dipercaya,”ujar Haryo.
Menurut Haryo, unsur yang kini memperindah kota harus dipertahankan. “Tetapi sering kali usaha untuk mempertahankan keindahan kota terhambat karena tidak ada dana. Padahal, hal itu bisa disiasati. Caranya bekerja sama dengan phak swasta,”katanya. Haryo mencontohkan untuk memelihara taman kota dana bisa di dapat dari pihak swasta sebagai timbal balik pihak swasta diperbolehkan memasang iklan di taman tersebut. Tetapi jika tamannya tidak terpelihara, pihak swasta harus menurunkan papan reklamenya dari taman itu.
Salman Ilyas
Ketua IKA STMT
Kamis, 17 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar